Saat asa para pengrajin jam tangan pria mulai kembang-kempis

Jam tangan pria selalu jadi tren di kalangan cowok-cowok yang suka tampil keren. Ada banyak brand terkenal luar negeri mengeluarkan item ini dengan harga selangit. Tidak mau kalah, para pengrajin produk lokal pun ikut menawarkan item dengan kualitas serupa tapi harga lebih terjangkau.

Kendala para pengrajin produk handmade

Punya produk yang bagus, kok bisa para pengrajin masih lesu? Ternyata, ada beberapa kendala dalam industri ini.

Menurut Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Mnajemen, Hesti Indah Kresnarini, pembinaan pengrajin masih kurang tepat sasaran. Meskipun udah digelar pameran, tapi yang datang tetap itu-itu saja.

Seharusnya, pembinaan digunakan per generasi. Jadi, satu generasi pengrajin cukup ikutan tiga sampai empat pameran, lalu dilepas. Mereka udah dianggap matang dan memberi kesempatan kepada pengrajin lain yang perlu pembinaan.

 

Masalah pemasaran itu bikin ekspor nasional di sektor kerajinan Indonesi masih tergolong rendah dibanding sektor lain. Selian itu, di dalam industri kerajinan, pengrajin sulit mengakses modal dari bank. Perlu kerjasama dari pemerintah buat menyusun langkah strategis supaya masalah ini selesai.

Pengrajin lokal juga mengalami tantangan branding, pemasaran, paten, dan pengembangan produk ramah lingkungan. Mereka harus menghadapi persaingan di dunia. Hal ini harus bisa jadi motivasi pengrajin supaya makin kreatif memasarkan produk. Termasuk bagi para pengukir” jam tangan pria kayu.

pengrajin jam tangan pria
pengrajin jam tangan pria

Meski banyak rintangan, asa masih tetap ada

Kerajinan kini jadi salah satu bagian dari 14 subsektor industri kreatif yang diunggulkan pemerintah. Sumbangan dari subsektor tersebut cukup besar. Makanya, pemerintah lagi berusaha memecahkan masalah permodalan pengrajin.

Kerajinan lokal seperti jam tangan pria sekarang udah dipasarkan ke 180 negara lho! Negara pengimpor kerajinan lokal diantaranya Amerika, Jepang, Inggris, Jerman, Australia, Prancis, dan Belanda. Nilai ekspor juga selalu meningkat tiap tahunnya. 

Dengan dibukanya pasar bebas ASEAN, produsen kreatif Indonesia gak boleh kalah saing. Kita juga harus jadi produsen, gak sekedar jadi konsumen produk impor doang.

 

Solusi tepat untuk memperbaiki kondisi ekonomi pengrajin tanah air

Kalau melihat data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, nilai ekspor kerajinan cukup tinggi, mencapai Rp21 triliun tahun 2013. Selain laris di pasar dunia, kerajinan lokal juga populer di kalangan masyarakat Indonesia. Buktinya, pameran produk kerajinan tangan terbesar di Indonesia, Inacraft ramai dikunjungi pengunjung.

Pada tahun 2015, Inacraft berhasil menarik lebih dari 1.450 peserta dengan target omzet transaksi sebesar Rp127 miliar. Ini jelas menandakan potensi kerajinan lokal yang tinggi.

Melihat peluang tersebut, Benny Fajarai dan Fransiskus Xaverius mencetuskan Qlapa, situs tempat pengrajin memasarkan barangnya. Situs tersebut diluncurkan pada 1 November 2015.

Lewat Qlapa, pembeli bisa dapetin jam tangan pria handmade langsung dari pengrajin yang berasal dari berbagai daerah. Konsumen juga bisa dapat layanan custom, alias pesan sesuai keinginan. Sampai sekarang, situs itu udah membantu para produsen produk kreatif menjual ribuan produk handmade.

Pengrajin yang berjualan di sini tentunya juga dapat keuntungan.  Situs ini hanya menyediakan lapak buat pengrajin, bukan reseller. Alhasil, tingkat persaingan pun jadi lebih rendah. Selain itu, mereka juga bisa memasarkan produk tanpa batasan ruang dan waktu.

Keamanan transaksi juga jadi fitur unggulan situs ini. Pihak manajemen bikin sistem escrow atau rekening bersama. Jadi, pembeli perlu ngirimin uang dulu ke rekening situs. Nah, kalau barangnya udah sampai ke tangan pembeli, baru uangnya diteruskan ke rekening pengrajin.

 

Merek yang sukses berkat keberadaan marketplace produk kerajinan Nusantara

Inovasi yang diberikan marketplace online tersebut udah ngebantu banyak banget  pengrajin ngembangin bisnis. Salah satunya adalah Hand2craft. Label tersebut memproduksi jam tangan pria.

Jam tangan pria yang terbuat dari stainless pasti udah biasa kan? Sekarang, ada tren baru di kalangan pasar handmade tanah air, yaitu jam tangan pria dari kayu! Hand2craft menggandeng tren ini sebagai ide mencetuskan produknya.

Label ini baru dua tahun terjun ke industri kerajinan. Dalam waktu singkat Hand2craft bisa berkembang dengan varian produk unik.

Awalnya, Hand2craft didirikan sama David Stephano dan Yola Stania. Keduanya bersahabat, kemudian memutuskan untuk membangun brand bareng karena sama-sama punya hobi wirausaha.  David bertugas bikin jam tangan pria, sementara Yola menangani marketing.

Saat mulai berdiri pada Agustus 2014, Hand2craft belum bikin jam. Mereka baru memproduksi aksesoris kulit aja. Kemudian Davin dapat ide untuk bikin jam tangan pria dari tugas akhirnya. Dia pun bereksperimen dengan ide barunya tersebut.

Ide tersebut memunculkan produk bernama Selasar, yaitu jam kayu ala Hand2craft. Meskipun badan jam terbuat dari kayu, bagian strapnya dibuat dari material kulit. David mengaku kalau industri kerajinan tangan Indonesia mulai berkembang. Soalnya, banyak pelaku yang mulai membuat produk lokal sendiri. Sebagian dari mereka malah udah menembus pasar dunia! Dia gak heran, soalnya produk lokal sebenarnya emang punya kualitas gak kalah sama buatan luar negeri.

Sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum menghargai produk anak bangsa dan lebih memilih impor.  David berharap pelaku industri handmade lokal bisa terus ningkatin kualitas produk supaya bisa bersaing sama barang impor.